Bernostalgia dengan Si Pohon Trambesi

- April 12, 2020

Mungkin bagi sebagian orang, bernostalgia dengan pohon terasa agak aneh.  Tapi bagi enviromentalis, hal tersebut lumrah bahkan menjadi sebuah budaya.
Dipenghujung tahun 2019, saya berkesempatan jalan-jalan ke kampus saya dulu, Universitas Hasanuddin (UNHAS). Sebenarnya sudah lama ingin menginjakkan kaki kembali ke kampus tapi baru kali ini ada kesempatan.  Ingin melihat langsung perkembangan kampus yang selama ini sebatas dari sosmed,  tentu saja jadi alasan.  Namun dibalik itu, ada alasan yang lebih kuat yaitu, bertemu dengan si Trambesi.

Yah…pohon-pohon itu saya tanam dan rawat ketika mengambil mata kuliah silvikultur di semester lima tepatnya di medio bulan Agustus - Desember tahun 2007. Saat itu, dosen mata kuliah  mewajibkan mahasiswa menanam dan merawat pohon hingga tumbuh sebagai syarat lulus.  Kami diberi warning bahwa jika pohon yang kau tanam tidak tumbuh, maka kau tidak lulus mata kuliah silvikultur. Tantangan tersebut kemudian saya terima karena saya berfikir inti dari mata kuliah ini adalah bagaimana menumbuhkan pohon, bukan menghafal teori-teorinya kemudian lulus dengan nilai A. 

Sekedar informasi mata kuliah silvikultur adalah mata kuliah yang membahas mengenai pemuliaan pohon mulai dari pembibitan,penanaman, perawatan, hingga tumbuh dan sebagainya.  Supaya mudah dikontrol oleh dosen maupun asistennya, lokasi penanaman dipilih di jalan masuk ke PH.  PH adalah singkatan dari Perkuliahan Kehutanan yang merupakan tempat kuliah bagi kami mahasiswa kehutanan saat itu.  Sekarang telah berganti nama menjadi Kampung Rimba.  Tempatnya cukup terpencil tepatnya tepatnya di daerah Kera-kera bagian belakang Kampus UNHAS.  Menuju ke sana harus jalan kaki  sekitar 700 meter dari halte pete-pete Fakultas Pertanian.  


Kampus Perkualiahan Kehutanan (PH) yang sekarang berubah menjadi Kampung Rimba

Lokasi tersebut memang tepat untuk menanam pohon karena di sepanjang jalan hanya rumput gajah yang bergoyang alias tidak ada pohon penaung.  Jadinya kami kepanasan ketika menuju PH untuk kuliah di siang bolong.

Saya ingat persis yang mana pohon saya. Itu karena, untuk menumbuhkannya tidaklah mudah.  Hampir setiap hari saya dan beberapa teman harus membawa air dalam botol untuk menyiramnya.  Hal itu karena pada saat itu bertepatan musim kemarau.  Belum lagi gangguan kambing milik fakultas tetangga yang selalu siap merusak tanaman yang tak berpagar.  Setelah berlalu setahun akhirnya pohon ini tumbuh tanpa perlu disiram setiap hari.  Pengalaman ini membawa saya pada satu kesimpulan bahwa menanam pohon itu gampang, yang susah adalah menumbuhkannya.  Jadi jangan sekali-kali menebang pohon tanpa alasan. 

Ada kekhawatiran sebelum menuju ke tempat pohon-pohon tersebut bertumbuh dan berkembang.  Khawatir jangan-jangan pohon itu telah ditebang sebagai imbas dari pengembangan infrastruktur kampus yang akhir-akhir ini terus menggeliat.  Namun setelah tiba di sana, kekhawatiran tersebut sirna seketika ketika melihat pohon -pohon tersebut tumbuh kokoh menaungi jalan.  Ranting-rantingnya menjulur ke arah jalan membuat jalan rindang dibuatnya sehingga pejalan kaki tak lagi peluh ketika berjalan di bawahnya. Segera saya menendang-nendang mereka sambil berguman” kamu sudah besar sekarang yah ? Lengan saya tidak lagi sanggup memelukmu.  Diameter  batangmu telah berkembang cukup besar.  Setelah dihitung-hitung umur si Trambesi  sudah hampir 14 tahun.   Jalan ke PH tak lagi seperti dulu yang panasnya minta ampun. Sekarang terasa lebih sejuk karena pohon-pohon kami telah tumbuh subur.

Bernostalgia dengan Si Trambesi (Samanea saman) yang ditanam 14 tahun lalu 
Rasa bahagia tentu saja terasa hingga relung hati terdalam. Bagaimana tidak, dengan tumbuhnya pohon ini saya baru merasa sebagai “Rimbawan”.  Karena bagi saya, seorang rimbawan itu tak sekedar menguasai teori-teori kehutanan tetapi mampu mengaplikasikannya menjadi sebuah karya nyata. Dan untuk menuju ke sana diperlukan skill mengaplikasikan teori ke praktek yang menghasilkan output real di lapangan.  Menanam dan menumbuhkan pohon dikalangan mahasiswa merupakan salah satu contoh untuk mentrigger skill tersebut.

Kompleksitas permasalahan yang dihadapi rimbawan akhir-akhir ini membutuhkan rimbawan bertipikal mampu mendrive teori to practice  berorientasi proses dan hasil. Bukan rimbawan tipikal teoritis berorientasi pencitraan.


Oleh : Taufik Mubarak (Alumni Kehutanan UNHAS- Angkatan 2005)


EmoticonEmoticon

This Newest Prev Post
 

Start typing and press Enter to search