Header Ads

Soal Sampah DOK 2 Jayapura


Setelah ada larangan pedagang kaki lima berjualan secara bebas di pantai DOK 2 Jayapura atau lebih familiar disebut Kupang alias kursi panjang, tempat tersebut dari kejauhan terlihat lebih menarik. Tidak ada lagi sepeda motor dan gerobak pedagang yang berjejer di pinggir jalan menjajakan makanan.  Yang ada hanya pedagang keliling yang membawa dagangan di bakul atau baskom

Namun, begitu melangkahkan kaki lebih dekat, estetika pantai mulai sirna perlahan lahan dipandang mata.  Penyebabnya tidak lain karena sampah terserak di mana-mana.  Walaupun tidak terlalu banyak, tetapi cukup mengganggu pandangan.  Sampah-sampah tersebut seperti botol, pembungkus kemasan makanan, daun dan tongkol jagung, tusuk sate-bakso, yang hampir semuanya berasal dari pengunjung. 

Sampah yang berserakan di Pantai DOK 2 Jayapura
Pertanyaannya kemudian, apakah ini murni perilaku pengunjung atau memang karena fasilitas seperti tempat sampah tidak tersedia?  Awalnya saya menduga, bahwa ini murni perilaku pengunjung yang tidak bertanggung jawab karena di sepanjang pantai tersedia tempat sampah yang kelihatannya masih layak bahkan sudah ada pemisahan antara sampah organik dan organik.

Setelah menikmati jagung rebus, saya kemudian menuju ke tempat sampah untuk membuang sampah bekas makanan.  Sambil melangkahkan kaki mendekati tempat sampah, saya menggerutu menyalahkan pengunjung yang hanya tahu menikmati panorama pantai tetapi tidak bertanggung jawab dengan membuang sampah seenak hati.  Semakin dekat ke tempat sampah, kekesalan saya makin bertambah karena di bawah tempat sampah yang tergantung banyak tumpukan sampah.  Pertanyaan saya, mengapa mereka tidak memasukkan sampah ke dalam tong sampah yang tersedia, malah membuang dibawah tong sampah?

Tumpukan Sampah di Bawah Tong Sampah
Setelah sampai dan berdiri di depan tempat sampah, saya mulai mengecek dan ternyata… oh .. ternyata tong sampah yang terbuat dari besi yang mulai berkarat,  bolong di bagian bawah. Jadi sampah yang dimasukkan ke dalamnya tentu jatuh ke bawah. Saya kemudian mengecek satu per satu tempat sampah di sepanjang pantai dan hampir semuanya seperti itu, bolong bawahnya. Jadi kesimpulannya masalah sampah di tempat ini adalah akumulasi dari perilaku pengunjung dan keterbatasan fasilitas.

Sebagian Tempat Sampah Bolong di Bagian Bawah sehingga Tidak Dapat Menampung Sampah

Lantas, apa yang perlu kita lakukan? Mencari siapa yang bertanggung jawab atau menyalahkan orang tentu bukan pilihan yang bijak.  Sebaiknya kita mencari solusi.  Bagi saya, solusinya permasalahan ini sederhana saja. Pertama, perbaiki atau sediakan tempat sampah baru dan lakukan pengangkutan sampah secara berkala serta edukasi ke pengunjung mengenai mengelola sampah yang baik yaitu dibuang di tempat sampah yang tersedia.  Edukasinya tidak perlu mengundang dan memberi kuliah ke mereka tetapi cukup memasang papan himbauan dan ada petugas yang berjaga sambil melakukan penyuluhan secara personal ke meraka.  Masalah petugas yang berjaga dan menyuluh, saya pikir tidak terlalu susah mencari personil karena di gerbang kantor gubernur tepat di depan pantai banyak petugas satpol PP yang berjaga.  Jadi alangkah baiknya jika diberdayakan.  

Pantai DOK 2 Jayapura di Sore Hari

Khusus untuk pengunjung, sambil menunggu fasilitas tempat sampah disediakan, alangkah baiknya membawa sampahnya kembali ke rumah atau membuang di tempat sampah terdekat. Ingat, masalah sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah tetapi tanggung jawab bersama.  Bahkan justru pengunjung yang harusnya lebih bertanggung jawab karena mereka yang menghasilkan sampah

Masalah sampah ini sebaiknya tidak dipandang sebelah mata karena selain merusak estetika pantai yang merupakan bagian jasa lingkungan juga akan merusak ekosistem pesisir dan laut. Jadi meskipun permasalahan sampai di pantai ini masih lebih relatif sederhana, sebaiknya jangan dipandang sebelah mata karena jika dibiarkan bisa jadi akan menjadi masalah kompleks.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.