Terapi Hutan (Forest Therapy) dalam Catatan Literatur

- Juli 14, 2020

Oleh : Taufik Mubarak*

Terapi hutan merupakan hal yang relatif baru dikenal sebagai salah satu wisata dan pengobatan alternatif yang memanfaatkan keindahan alam khususnya hutan di Indonesia. Untuk itu kajian literatur adalah alternatif pilihan untuk mendapatkan gambaran dan memahami konsep terapi hutan (forest therapy) lebih mendalam.  Atas dasar pertimbangan tersebut kajian literatur ini dilakukan.

Memahami terminologi

Terkadang "gagal paham" berawal dari kebingungan akan terminologi yang melekat pada suatu obyek. Gagal paham selanjutnya menciptakan kegagalan komunikasi akibat kesalahan informasi yang disampaikan. Begitu juga dengan terapi hutan. Gagal paham semacam ini sangat bisa terjadi. Mengingat ada beberapa terminologi terkait terapi hutan yang pada dasarnya berdefinisi sama namun berbeda istilah. Agar hal ini tidak terjadi, memahami terminologi-terminologi tersebut melalui kajian literatur tentu sebuah pilihan yang tepat. 

Untuk itu, bagian pembuka tulisan ini akan membahas terminologi-terminologi yang jamak dijumpai ketika membahas terapi hutan. Terapi hutan (forest therapy) dapat didefinisikan sebagai upaya penyembuhan dan pencegahan penyakit atau menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan manusia dengan memanfaatkan lingkungan hutan sebagai media. Terapi hutan di berbagai negara dikenal dengan berbagai macam istilah. Di China terapi hutan diistilahkan dengan forest recuperation sementara di Negara Eropa dan Amerika Serikat dikenal dengan natural therapy, climate therapy dan forest bathing. Masyarakat Jepang mengenal terapi hutan dengan istilah shinrin-yoku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai forest bathing. Di Korea Selatan terapi hutan diistilahkan dengan forest healing, sementara di Taiwan terapi hutan dikenal melalui dua istilah yaitu forest healing dan forest therapy. Jadi secara umum istilah forest recuperation, natural therapy, climate therapy, forest bathing, dan forest healing pada esensinya sama dengan definisi terapi hutan (forest therapy).

Setelah memahami beberapa terminologi yang sama dengan terapi hutan, pertanyaan selanjutnya yang sering muncul adalah apa perbedaan antara healing forest, forest healing, dan jalan-jalan dalam hutan. Penjelasan sederhananya begini, forest healing adalah aktivitas, healing forest adalah hutan tempat beraktivitas dan jalan-jalan dalam hutan adalah salah satu bentuk aktivitas terapi hutan (forest healing). Selain jalan-jalan di dalam hutan, bentuk aktivitas terapi hutan lainnya antara lain duduk dalam hutan sembari mendengarkan kicauan burung, hembusan angin dan gemercik air sungai.
Aktivitas Forest Healing (Sumber : abc.net.au)
Bagaimana mekanisme terapi hutan menyehatkan manusia? 
Salah satu pertanyaan kritis ketika membahas terapi hutan adalah bagaimana mekanisme hutan menyehatkan manusia? Apa sebenarnya yang terjadi ketika seseorang berjalan di tengah hutan sehingga menyebabkan taraf kesehatannya meningkat? Jawaban ilmiah atas pertanyaan ini tentu sangat dibutuhkan untuk meyakinkan khalayak akan kemampuan terapi hutan untuk menyehatkan manusia. Beberapa temuan penelitian dan riset dapat dijadikan jawaban atas pertanyaan ini. Temuan-temuan tersebut antara lain :
  1. Pengaruh lingkungan hutan terhadap kesehatan secara umum karena pengaruh phytoncide, sebuah kelompok bahan organik volatil yang pertama kali diidentifikasi oleh Dr. Boris P. Tokin, mantan ahli biokimia uni soviet yang bekerja di Universitas Leningrad pada tahun 1930-an. Salah satu penelitian terbaik phytoncide adalah temuan zat alfa-pinine yang disekresikan secara terus menerus dari jaringan kelenjar minyak tumbuhan, seperti bunga, daun, kayu, akar dan tunas. Ketika phytoncides mengenai jaringan kulit manusia, membrane lendir atau ketika zat ini terhirup melalui pernapasan, phytoncides menstimulasi dan mendorong meningkatnya protein imum manusia yang selanjutnya meningkatkan daya tahan tubuh. Phytoncides juga dapat mengatur keseimbangan fungsi saraf otonom manusia.
  2. Berjalan di hutan menurunkan konsentrasi total hemoglobin (total-Hb) pada korteks prefrontal (PFC). Hal ini diketahui setelah dilakukan pengukuran menggunakan alat near-infrared spectroscopy. Aktivitas berkebun seperti melalukan transplantasi tanaman pot berdaun juga mengurangi konsentrasi oxyhemoglobin (oxy-Hb) di dalam PFC. Selanjutnya dengan menurunnya konstrasi total Hb dan oxy-Hb menyebabkan saraf lebih rilex pada PFC. Hal inilah menjadi penyebab otak lebih rileks ketika sedang berjalan di dalam hutan atau berkebun.
  3. Berjalan di hutan atau melihat bunga segar, bunga pansies, daun tanaman, atau kebun kiwi meningkatkan aktivitas saraf parasimpatik dan mengurangi aktivitas saraf simpatik yang diindikasikan dengan meningkatnya komponen frekuensi tinggi (HF) pada variabilitas denyut jantung (HRV) dan menurunkan rasio komponen frekuensi rendah (LF)/HF. Kondisi ini menyebakan menurunnya denyut jantung dan tekanan darah. 
  4. Hormon stres dikeluarkan untuk mengatasi tantangan dari lingkungan. Meningkatnya level hormon stress kronis yang banyak terjadi dalam kehidupan modern yang penyebabkan antara lain kerja melewati waktu dan waktu istirahat di malam hari dan di akhir pekan yang tidak cukup beresiko terhadap kesehatan afektif, kognitif dan fisik. Berinteraksi secara langsung dengan alam dapat menurunkan kelebihan produksi hormon stress. Contohnya berjalan di hutan menurunkan tingkat cortisol, adrenalin, dan non-adrenalin yang ketiganya merupakan hormon stress. Berjalan di hutan juga dapat meningkatkan level adiponectin yang berperan mengatur metabolisme glukosa dan fatty acid. Berdasarkan hal tersebut, terapi hutan dilaporkan menurunkan glukosa darah pada pasien diabetes tak bergantung insulin. Sehingga berinteraksi dengan alam dikaitkan dengan menurunnya obesitas dan diabetes.
  5. Terapi hutan meningkatkan sistem imum. Hal ini karena terapi hutan meningkatkakan jumlah sel pembunuh alami dan protein anti kanker. Sistem imun menginisiasi inflamasi untuk menghilangkan rasa sakit karena patogen dan melindungi tubuh khususnya melalui pelepasan pro-inflammatory cytokines
  6. Lingkungan alam kaya akan mikrobial. Mikroba hidup di tanah,akar, kulit kayu, daun, dan pohon. Mikroba ini juga tersebar di udara dan air di dalam hutan. Mikroba dapat terhirup dan berdampak pada sistem pernapasan dan miroba usus serta dapat menempel pada kulit sehingga berpengaruh pada mikrobiota kulit. Baru-baru ini ditemukan bahwa mikroba-mikroba ini mengatur sistem imun dan diversitas mikrobiota sangat penting bagi kesehatan manusia. Hal yang menarik adalah orang yang hidup di sekitar daerah pertanian berbiodiversitas lingkungan tinggi menyebabkan diversitas generik protebacteria yang tinggi pada kulitnya. Dampaknya adalah mereka cenderung terbebas dari penyakit alergi. 

Sejarah Terapi Hutan

Setiap yang ada tentu punya sejarah. Begitu juga dengan terapi hutan (forest theraphy). Catatan sejarahnya terus tercatat dalam ruang dan waktu. Konsep dan prototipe dari terapi hutan berasal dari Jerman yang mencakup natural therapy, climate therapy, dan forest therapy dan kemudian menjadi populer di Eropa, Amerika, dan beberapa negara berkembang. Bukti ilmiah akan pengaruh lingkungan hutan terhadap kesehatan manusia salah satunya ditemukan pada tahun 1930-an oleh Dr. Boris P. Tokin mantan ahli biokimia Uni Soviet yang bekerja di Universitas Leningrad. Pengaruh tersebut tak lepas dari keberadaan zat phytoncide pada tumbuhan yang ketika terhirup atau menyentuh kulit dapat mestimulasi meningkatnya protein imum manusia yang pada akhirnya meningatkan daya tahan tubuh. Phytoncides juga dapat mengatur keseimbangan fungsi saraf otonom manusia.

Tahun 1980-an Jepang memperkenalkan "Shirin yoku" atau forest bathing yang merupakan pengembangan terbaru dari terapi hutan. Konsep ini mendorong berkembangnya konsep pengobatan hutan atau "Forest Medicine" yang mengkaji pengaruh hutan terhadap kesehatan manusia. Forest Medicine menurut Li, (2012) mengacu pada disiplin ilmu baru yang mengkaji bagaimana stres dapat hilang dengan membenamkan diri ke dalam hutan, bagaimana penyakit terkait gaya hidup dapat dicegah dan diatasi dengan relaksasi pikiran dan meningkatkan kebugaran tubuh. Dalam pembagian ilmu kesehatan "Forest Medicine" digolongkan sebagai pengobatan alternatif dan pengobatan pencegahan.

Pengembangan Terapi Hutan di Berbagai Negara

Beberapa dekade terakhir ini, beberapa negara sangat intens mengembangkan terapi hutan (forest therapy).  Hal tersebut dilakukan atas berbagai latar belakang dan pertimbangan. Berikut beberapa negara yang mengembangan terapi hutan sebagai program nasional yang dikumpulkan dari beberapa literatur:

1. Jepang

Tahun 1982 Pemerintah Jepang memperkenalkan konsep shinrin yoku atau forest bathing dan menghimbau kepada masyarakat mempraktekkannya. Shinrin yoku diperkenalkan sebagai sebuah terapi atas keresahan pemerintah Jepang terhadap meningkatnya jumlah masyarakat yang menderita penyakit kejiwaan sebagai dampak industrialisasi.  Konsep ini kemudian diadaptasi dan dikembangkan di berbagai negara di dunia termasuk Amerika Serikat.  Jadi dapat dikatakan bahwa ilmu terapi hutan modern berakar dari shinrin yoku.
Sarana Terapi Hutan di Jepang (sumber : https://tokyoesque.com/)
Antusiasme masyarakat Jepang terhadap terapi hutan terus meningkat dari waktu ke waktu.  Tiap tahun tercatat 140.000 orang mengunjungi Akazawa Healing Forest untuk tujuan shinrin-yoku. Sebagian penduduk Jepang menjadikan shinrin yoku sebagai gaya hidup yang menjadi rutinitas akhir pekan.  Bahkan beberapa perusahaan menjadikan terapi hutan sebagai metode menjaga kesehatan jiwa pekerjanya.  Untuk mendukung terapi hutan, Pemerintah Jepang telah mengembangkan beberapa tempat terapi hutan di sekitar Tokyo antara lain Sayama Hills yang juga dikenal dengan hutan Totoro, Hinohara Tokyo Citizen's Forest, Gunung Takao, Institut for Nature Study, dan Arisuga-no-miya Memorial Park.  Bentuk usaha lain untuk memajukan shinrin yoku adalah dengan mengembangkan pelatihan pemandu terapi hutan untuk menyediakan sumber daya manusia profesional. Waktu yang dihabiskan untuk training sekitar setahun dengan bentuk training berupa kombinasi antara training lapangan intensif dengan praktikum dimana di dalamnya termasuk supervisi kurikulum untuk memperdalam skill dan pengetahuan peserta.

2. Korea Selatan

Tingkat urbanisasi yang tinggi dan industrialisasi di Korea Selatan menyebabkan permasalahan kesehatan. Depresi merupakan penyakit mental yang umum di Korea Selatan.  Fakta menunjukkan bahwa pengobatan medis atas depresi pada tahun 2017 tercatat mencapai 681.000 kasus atau meningkat 15% dibanding tahun 2012.  Angka bunuh diri akibat depresi menunjukkan bahwa dalam 100.000 penduduk terdapat 25,8 orang yang bunuh diri. Angka bunuh diri pada orang dewasa meningkat karena masalah ekonomi dan disorientasi mental.

Upaya preventif dianggap sangat penting mengingat besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk jasa kesehatan dan kesejahteraan sosial.  Isu ini kemudian mendorong pemanfaatan hutan untuk mendukung peningkatan taraf kesehatan dan kesejahteraan.  Pemerintah telah mengesahkan beberapa peraturan terkait pemanfaatan sumber daya hutan untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan seperti Forest Culture and Recreation Act dan Forest Welfare Promotion Act.  

Saat ini permintaan akan terapi berbasis alam terus meningkat. Untuk itu pemerintah pusat dan daerah, organisasi publik dan swasta, akademisi dan praktisi bekerja sama untuk mengembangkan pendekatan integratif pemanfaatan hutan untuk kesehatan dan kesejahteraan manusia. Pragram terapi hutan saat ini tersedia berdasarkan kelompok umur. Jumlah orang yang mengunjungi healing forest menunjukkan peningkatan dari 157.000 pada tahun 2011 menjadi 1,44 juta pada tahun 2016.

3.  China

Tahun 2011 China memperkenalkan konsep terapi hutan yang dikenal dengan “forest recuperation”. Tujuh tahun kemudian konsep ini dijadikan program resmi Pemerintah dan menjadi sangat popular tiga tahun kemudian.  Pada dasarnya konsep dan model forest recuperation sama dengan model di Negara lain yang dikenal sebagai forest healing, shinrin-yoku atau natural health care yang diistilahkan forest recuperation di cina.  Inisiatif awal, healing forest didesain pada tiga lokasi percobaan untuk menguji dan mensistematiskan jasa forest healing.  Saat ini tercatat 30 healing forest beroperasi dan 17 sedang dibangun pada tahun 2020.  Di dalam hutan terapi, programnya menyediakan instruktur spesialis yang disertifikasi oleh pemerintah. Ringkasan perkembangan forest recuperation di China sebagai berikut :

Sebelum tahun 2015, ilmuan China mempelajari model dan praktek terapi hutan dari komunitas internasional dan memulai riset empiris pengobatan hutan di China.  Sejak tahun 2010, Professor Wang Guofu menginvestigasi pengaruh lingkungan hutan terhadap kesehatan manula.  Tahun 2012 forest recuperation secara resmi diperkenalkan di China dan desain dan pengembangannya dilakukan pada beberapa hutan di Singshan, Xishan, dan Badaling. Tahun 2013, Deng Sanlong, Direktur The Hunan Provincial Forestry Departement mengajukan sebuah proposal yang berjudul "Proposal for Vigorously Promoting Green Supply" dan menyerukan pengembangan industri hutan untuk kesehatan.

Tahun 2015, China menyelenggarakan beberapa proyek terkait forest recuperation/Forest Therapy dan forest health care. Program-program ini umumnya dibawah koordinasi masing-masing provinsi. Tahun 2016 State Forestry Administration mengeluarkan " Notice on Promoting Forest Experience and Forest Health Care Development" yang menyerukan pentingnya memasukkan perlindungan kesehatan hutan dalam agenda kerja kehutanan. Tahun 2017, pimpinan utama Provinsi Shanxi membentuk kelompok kerja forest health care yang diketuai oleh gubernur untuk meningkatkan perhatian terhadap forest recuperation.

4. Taiwan

Taiwan memiliki sumber daya hutan yang melimpah.  Tahun 2012, 60,71 tutupan lahannya adalah hutan.  Kebijakan menggunakan lingkungan hutan untuk kesehatan dan terapi menjadi salah satu kebijakan Negara dibidang kehutanan.  Pengembangan terapi hutan dimulai pada tahun 1983, ketika Dr. Wen-Zhen Lin memperkenalkan konsep Shinrin-yoku (forest immersion) dan mempromosikan konsep forest health care. Sejak saat itu, Pemerinth, akademisi dan organisasi non pemerintah berpartisipasi dalam riset terkait terapi hutan.

Saat ini setidaknya 18 tempat wisata alam dijadikan tempat pengembangan utama terapi hutan. Tempat tersebut yakni Taipingshan, Dongyanshan, Basianshan, Aowanda, Alishan, Shuangliou, Jhihben, dan Fuyan. Kedepannya Badan Komisi Kehutanan merencanakan melalukan training bagi asosiasi terapi hutan Taiwan. Materi training terdiri dari tiga tema utama yaitu ilmu kehutanan, kesehatan hutan, dan masalah keamanan.

Perkembangan Terapi Hutan di Indonesia

Hingga saat ini, rekaman perkembangan terapi hutan di Indonesia yang tercatat dalam literatur masih sangat terbatas.  Penelusuran riset terapi hutan di Indonesia akhirnya mengarah ke sebuah nama.  Beliau adalah Hikmat Ramdam, Dosen Rekayasan Hutan Institut Teknologi Bandung.  Beliau boleh dibilang sebagai salah seorang pioneer dalam riset terapi hutan di Indonesia. Beliau hingga saat ini setidaknya telah melakukan riset terapi hutan di dua tempat berbeda yaitu di Taman Wisata Alam Puncak Bintang di Bandung Utara dan Gunung Walat yang berstatus hutan pendidikan milik Institut Pertanian Bogor.  Hasil penelitiannya yang dipublikasikan dalam situs forestdigest.com, menemukan bahwa  ruang ekosistem yang memberikan rasa nyaman bagi tubuh di antaranya jika suhu maksimal 24 derajat Celsius, kelembapan udara 65-70%, intensitas cahaya 300-500 lux, kerapatan vegetasi 70-100%, kebisingan di bawah 40 desibel, dan kelerengan datar sampai landai. Jika terlalu terjal, lutut akan nyorodcod sehingga tidak nyaman berjalan.

Saat ini, beberapa unit pengelola kawasan hutan di Indonesia mulai menjajaki pengembangan hutan babagai sarana terapi hutan. Seperti Perhutani KPH Bandung Utara berencana menjadikan kawasan wisata Puncak Bintang sebagai sarana terapi hutan.  Bergeser ke timur Indonesia, setali tiga uang, Taman Nasional Akatejawe juga sedang mempersiapkan beberapa tempat di taman nasional tersebut sebagai sarana terapi hutan.  Hal tersebut dikemukakan Tutut Heri Wibowo, Kepala Balai Taman Nasional tersebut dalam webinar memperingati hari lingkungan hidup tahun 2020.  Beberapa titik lokasi yang dipersiapkan untuk terapi hutan antara lain Air Terjun Havo, Sungai Tayawi, beberapa lokasi bird watching, dan camping ground di Resort Tayawi, Jembatan Gantung di Suaka Burung Paruh Bengkok, lokasi habitat pohon-pohon berdiameter besar dan gua-gua yang berada dalam Taman Nasional  Aketajawe Lolobata.


Referensi Utama :

Clifford, M. A. (2018) : Your Guide to Forest Bathing : Experience the Healing Power of    Nature, Conari Press, Newburyport.

Kotte, D., Li, Q., Shin, W.S., Michalsen, A. (2019) : International Handbook of Forest            Therapy, Cambridge Scholars Publishing, UK.


* Penulis adalah rimbawan berdomisili di Papua















EmoticonEmoticon

This Newest Prev Post
 

Start typing and press Enter to search