Visibilitas Wisata Alam Virtual Untuk Memulihkan Sektor Wisata Alam Terdampak Pandemi COVID-19

- Juni 30, 2020
Oleh : Taufik Mubarak*

Wisata alam adalah salah satu sektor yang paling terdampak pandemi COVID-19.  Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan per tanggal 19 Maret 2020 telah menutup 56 kawasan konservasi untuk tujuan wisata yang terdiri dari 26 taman nasional, 27 taman wisata alam, dan 3 suaka margasatwa. Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipasi dan pencegahan penyebaran COVID-19.

Dampak penutupan sarana wisata alam tidak hanya menyebabkan hilangnya kesempatan negara untuk memperoleh income dari sektor ini, tetapi juga hilangnya kesempatan masyarakat setempat pelaku wisata alam untuk memperoleh penghasilan. Penutupan wisata alam yang berarti ketiadaan pengunjung menyebabkan mandeknya putaran roda ekonomi masyarakat pelaku wisata alam.  Untuk meringankan beban masyarakat terdampak pandemi COVID-19, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah berinovasi dengan mengeluarkan kebijakan jangka pendek seperti membeli secara langsung produk yang dihasilkan masyarakat atau memberikan bantuan langsung kepada masyarakat terdampak. Namun disamping inovasi yang sifatnya jangka pendek, diperlukan inovasi jangka panjang yang reliabel agar sektor ini dapat keluar dari krisis yang dihadapi sekarang ini.

Langkah menemukan inovasi yang reliabel dapat dimulai dengan mencari pain point permasalahan wisata alam yang belum ditemukan solusinya hingga saat ini.  Secara sederhana, pain point wisata alam yang tutup akibat COVID-19 adalah masyarakat kehilangan akses menikmati obyek wisata alam karena ditutup untuk menghidari penyebaran COVID-19 yang selanjutnya melahirkan dampak turunan berupa hilangnya kesempatan negara dan masyarakat pelaku wisata alam untuk memperoleh penghasilan dari sektor ini. Berdasarkan pain point tersebutpermasalahan yang harus dipecahkan dari sebuah inovasi yang reliabel dapat diidentifikasi dengan mudah.  Setidaknya ada dua hal yang harus dipecahkan dari permasalahan ini yakni, pertama menemukan solusi bagaimana masyarakat dapat berwisata alam tanpa khawatir terpapar COVID-19. Kedua menemukan solusi bagaimana negara dan masyarakat pelaku wisata alam mendapatkan income dari wisata alam yang tutup akibat pandemi COVID-19.
"Pain point wisata alam yang tutup akibat COVID-19 adalah masyarakat kehilangan akses menikmati obyek wisata alam karena ditutup untuk menghidari penyebaran COVID-19 yang selanjutnya melahirkan dampak turunan berupa hilangnya kesempatan negara dan masyarakat pelaku wisata alam untuk memperoleh penghasilan dari sektor ini"
Salah satu inovasi yang dapat menjawab permasalahan di atas adalah wisata alam virtual memanfaatkan teknologi virtual reality. Virtual reality (VR) merupakan teknologi yang memanfaatkan simulasi komputer untuk memanipulasi indra penglihatan manusia terhadap obyek lingkungan alam di dunia maya sehingga merasa seolah-olah berada dalam lingkungan alam yang nyata.  

Aplikasi teknologi VR dalam wisata alam memungkinkan seseorang menikmati panorama alam dari  rumah atau tanpa harus ke obyek wisata alam.  Dengan demikian masyarakat tak perlu khawatir terpapar COVID-19.  Terkait visibilitasnya, inovasi ini sangat mungkin dilakukan karena teknologi yang dibutuhkan telah tersedia di pasar dengan harga relatif terjangkau.  Teknologi yang digunakan cukup dengan smartphone yang dilengkapi fitur pendukung VR dan perangkat kacamata VR. Tutorial pengoperasioan teknologi ini sebagaimana video berikut :


Wisata alam virtual ini juga sekaligus memberikan peluang kepada negara dan masyarakat mendapatkan income.  Salah satu peluang yang dapat dimoneterisasi adalah iklan pada video VR yang dibuat oleh pengelola wisata alam atau masyarakat setempat. Saat ini aplikasi seperti Youtube menawarkan penghasilan atas iklan pada video yang dibuat oleh pemilik akun Youtube setelah memenuhi persyaratan tertentu.  Jadi secara sederhana cara kerjanya adalah pengelola wisata alam dalam hal ini pemerintah dan masyarakat pelaku wisata alam cukup membuat video virtual reality wisata alam kemudian menyebarkan atau menviralkan melalui aplikasi VR seperti Youtube.  Jika kesulitan membuat video, saat ini telah tersedia jasa pembuat VR profesional.  Dengan semakin banyaknya orang yang mengakses video tersebut maka peluang mendapatkan income dari iklan semakin besar.  

Wisata alam virtual memiliki prospek yang menjanjikan untuk memulihkan ekonomi sektor wisata alam dengan beberapa pertimbangan.  Pertama, menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Tahun 2017, Indonesia memiliki 344 unit kawasan konservasi yang dapat dimanfaatkan sebagai arena wisata alam virtual. Kawasan konservasi tersebut terdiri atas 54 taman nasional  dan 123 taman wisata alam, 28 taman hutan raya, 11 taman buru, 72 suaka margasatwa, dan 56 unit kawasan suaka alam/kawasan pelestarian alam dengan total luas lebih dari 20 juta hektar. Dengan potensi yang sedemikian besar tersebut, dapat dibayangkan seberapa banyak content video VR yang bisa diproduksi dari kawasan konservasi tersebut.

Kedua, saat ini video VR wisata alam sudah mulai dilirik oleh pembuat content video.  Atusiasme penonton pun sepertinya sudah mulai meningkat dengan semakin banyaknya penonton tayangan VR wisata alam. Hal tersebut salah satunya dapat dibuktikan melalui video di link ini yang telah ditonton lebih dari 1 juta kali sejak diunggah tahun 2017.      

Ketiga, wisata alam virtual yang dikategorikan sebagai sektor ekonomi digital, terbukti memiliki resiliensi yang baik terhadap krisis. Salah satu buktinya dapat dilihat dari pembuat content Youtube atau yang biasa dikenal youtuber yang justru meraup untung besar dari pandemi COVID-19.  Meningkatnya jumlah masyarakat yang menonton Youtube pada saat pandemi COVID-19 berimplikasi pada meningkatnya penghasilan youtuber dari iklan.  Bahkan beberapa publik figur seperti artis, ekonominya terselamatkan dari content Youtube yang mereka produksi.  

Keempat, secara ilmiah mampu memperbaiki tingkat kesehatan psikologi seseorang. Penelitian Hong dkk, (2019) membuktikan bahwa orang dewasa yang menonton video virtual reality bertema hutan secara psikologis mengalami penurunan indeks stres dan kondisi psikologis yang lebih stabil.  Penelitian ini dilakukan di Korea Selatan untuk menemukan solusi bagi orang-orang yang ingin melakukan healing forest namun memiliki keterbatasan akses terhadap obyek wisata alam.

Kelima, minat masyarakat terhadap video VR menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat.  Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya permintaan pasar terhadap perangkat kacamata VR.  Google yang merupakan salah satu produsen kacamata VR yang dikenal sebagai Cardboard VR melaporkan bahwa mereka berhasil menjual 6.000 kit Cardboard hanya dalam waktu seminggu setelah produk ini diperkenalkan ke publik di tahun 2014. Lebih lanjut dijelaskan bahwa hingga akhir 2014 mereka berhasil memasarkan sekitar 500 ribu unit.  Permintaan pasar diprediksi akan semakin meningkat karena harga perangkat ini cukup terjangkau.

Keenam, wisata alam virtual sangat ramah lingkungan.  Hal ini karena orang yang ingin menikmati wisata alam tidak perlu ke lokasi wisata alam (dunia nyata) tetapi cukup dilakukan di dunia maya.  Dengan demikian, tidak ada tekanan terhadap lingkungan beserta organisme di sekitarnya dari kehadiran pengunjung wisata alam.  Selain itu, sarana ini juga dapat dijadikan sebagai media pendidikan lingkungan yang efektif dan efisien.  Hal ini karena teknologi pembuatan video memungkinkan untuk menyisipkan pesan-pesan pendidikan lingkungan di dalamnya secara efektif karena mampu menjangkau banyak viewer dan efisien karena biayanya relatif murah dibanding pendidikan lingkungan secara offline.

Ketujuh, wisata alam virtual memungkinkan moneterisasi obyek wisata alam yang selama ini belum dikelola dengan berbagai pertimbangan. Sebagaimana diketahui bersama bahwa hingga saat ini masih banyak kawasan konservasi di Indonesia yang memiliki keunikan panorama alam tetapi belum dikelola dengan baik untuk menghasilkan income bagi negara dan masyarakat setempat.  Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor penghambat seperti sulitnya akses, keamanan pengunjung, dan wisata berbiaya tinggi.  Dengan wisata alam virtual, wisatawan dapat menikmati panorama alam yang selama ini belum dikelola tanpa terkendala oleh faktor-faktor penghambat yang telah disebutkan sebelumnya.  Dengan demikian, negara dan masyarakat yang terlibat dalam wisata alam virtual tersebut berkesempatan memperoleh income dari video VR wisata alam yang dikelolanya.  Hanya yang menjadi kendala saat ini adalah belum adanya regulasi yang mengatur secara khusus penghasilan negara dari content digital yang dimiliki pemerintah.

Kedelapan, biaya yang diperlukan untuk memproduksi content video VR relatif murah jika dibandingkan dengan biaya membangun sarana dan prasarana fisik wisata alam.  Selain itu, video VR relatif tidak membutuhkan biaya perawatan setelah diproduksi atau selama proses moneterisasi. Video cukup diunggah dalam aplikasi video pendukung VR sambil menunggu proses moneterisasi setelah video memenuhi syarat.  Ibaratnya hanya perlu mengeluarkan biaya untuk membeli dan memasang jaring sekali, setelah itu tinggal memanen ikan yang terjaring.

Berdasarkan kedelapan pertimbangan tersebut, sudah selayaknya wisata alam virtual dipertimbangkan sebagai inovasi untuk memulihkan sektor wisata alam yang terdampak pandemi COVID-19.

*Penulis adalah rimbawan berdomisili di Papua

Referensi :
  1. Hong, S.,Joung, D., Lee, J., Kim, D., Kim, S., Park, B. (2019) : The Effect of Watching a Virtual Reality (VR) Forest Video on Stress Reduction in Adults, J. People Plants Environ. Vol 22 No.3 309 - 319
  2. Siaran Pers Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tanggal 19 Maret 2020 (Online) : http://ppid.menlhk.go.id/siaran_pers/browse/2374 diakses tanggal 30 Juni 2020
  3. Siaran Pers Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tanggal 10 Agustus 2017 (Online) : http://ppid.menlhk.go.id/siaran_pers/browse/704 diakses tanggal 30 Juni 2020










EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search