Ketika Corona Mendamaikan Perseteruan antara Developmentalis Versus Enviromentalis

- Juni 07, 2020

Sumber : Tribunnews.com

Akhir akhir ini nitizen ramai membicarakan seruan pemerintah kepada masyarakat agar berdamai dengan corona. Pro-kontra pun tak terhindarkan.  Terlepas siapa yang benar dan salah, di sini saya tidak akan membahas panjang lebar.  Tetapi saya akan membahas bagaimana corona menjadi mediator perdamaian perseteruan abadi kaum environmentalis versus developmentalis.
Hubungan kaum enviromentalis versus developmentalis sebelum pandemik corona melanda dunia bak air dengan minyak. Mereka tidak pernah sepaham ketika berbicara bagaimana seharusnya pembangunan dijalankan. Perseteruan antar keduanya terjadi di mana-mana. Baik di forum online maupun offline. Namun jika dikalkulasi kaum developmentalis selalu jadi pemenang karena mendapat dukungan publik yang lebih luas. Hal ini wajar karena developmentalis menjanjikan kesejahteraan materi dari konsep pembangunan yang ditawarkan. 
Jika ditelisik lebih mendalam, perseteruan ini tak terlepas dari mazhab ekonomi yang meraka anut.  Kaum developmentalis umumnya menganut mazhab ekonomi neo-klasik.  Dalam mazhab ekonomi neo-klasik, barang/materi yang tidak memiliki nilai moneter di pasar dianggap tidak penting. Celakanya, barang-barang tersebut banyak melekat pada ekosistem alam seperti udara bersih, keindahan lansekap, kicauan burung, dll. Jadi jangan heran bila biodiversitas sering dikorbankan dalam pembangunan, khususnya pembangunan infrastruktur.  Sementara di kutub lain, kaum enviromentalis umumnya menganut mazhab ekonomi ekologi. Ekonomi ekologi berpandangan bahwa kepentingan ekosistem lingkungan alam diatas kepentingan pembangunan lainnya.   
Covid19 telah merubah banyak hal, termasuk knowledge manusia terhadap materi. Perubahan knowledge selanjutnya mendrive pergeseran nilai suatu materi dalam perspektif manusia.  Dari tidak penting menjadi penting dan sebaliknya. Salah satu hal yang diprediksi akan bergeser adalah knowledge manusia terhadap ekosistem lingkungan alam. 
Pergeseran knowledge ini selanjutnya mengangkat derajat kaum enviromentalis di mata publik.  Publik akan tersadar bahwa bukan hanya barang yang bisa dimoneterisasi yang menjadi penting tetapi barang-barang yang selama ini tidak dapat dimoneterisasi pun sama pentingnya.  Karena ketika tidak dijaga dengan baik akan membuat barang-barang bermoneter menjadi tidak berguna.  Publik menyaksikan bagaimana corona yang menurut sebagian ahli terlahir dari kesalahan pengelolaan biodiversitas, mampu melumpuhkan operasional bandara, stasiun kereta api, pusat perbelanjaan, dunia aviasi yang semuanya merupakan barang-barang bernilai moneter.  Sistem perekonomian neo-klasik yang menawarkan kesejahteraan materi pada akhirnya bertekuk lutut ditangan corona. Kaum developmentalis sepertinya tidak bisa berbuat banyak. Sehingga iming-iming kesejahteraan yang ditawarkan kepada publik pada akhirnya jauh dari kata konsistensi. Banyak orang yang sebelumnya kaya tiba-tiba miskin karena sistem ekonomi neo-klasik tak kuasa melawan corona yang menjadi musuh tak terlihat.
Kaum enviromentalis dinaikkan level derajatnya oleh corona hinggal level setara dengan kaum developmentalis di mata publik. Hal ini karena dukungan publik terhadap kaum developmentalis mulai menurun disebabkan mereka tidak kuasa memberikan solusi atas wabah corona yang menghantam sistem ekonomi neo-klasik. Kedepan sepertinya suara kaum environmentalis yang menawarkan biosecurity akan mulai dipertimbangkan sebagaimana suara kaum developmentalis yang menawarkan kesejahteraan materi.  Kesetaraan ini menyebabkan keduanya berdamai atas mediasi corona.  Corona memediasi perdamaian keduanya dengan membuat kesetaraan antar keduanya.  Kesetaraan ini diciptakan dengan cara mengangkat pamor kaum environmetalis sementara di sisi lain pamor kaum enviromentalis diturunkan di mata publik hingga keduanya setara. 
Namun agar perdamaian ini kekal abadi, sebaiknya mazhab ekonomi yang dianut keduanya diperbaharui.  Mazhab ekonomi lingkungan mungkin bisa menjadi titik temu keduanya. Ekonomi lingkungan mencoba memberikan nilai terhadap komponen lingkungan yang sebelumnya tidak memiliki nilai pasar melalui pendekatan valuasi ekonomi. (Sumber Gambar : tribunnews.com)     


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search