Bagaimana Prospek Konservasi Biodiversitas Pasca Corona?

- Juni 06, 2020

Setelah hujan badai menyapu lembah, biasanya ada pelangi dari balik bukit.  Ketika alam berkenan menyuguhkan fenomena ini, seantero manusia lembah yang tengkurap dalam rumah keluar menikmatinya.  Rasa takut pun berganti bahagia.”

Untaian kalimat melankolis diatas mungkin bisa digunakan untuk menggambarkan prospek konservasi biodiversitas yang nasibnya akan segera berubah pasca badai covid 19. Isu konservasi biodiversitas berpeluang besar naik kelas atau menjadi trending topic pasca covid 19. Salah satu leveragenya adalah berkembangnya teori yang meyakini bahwa covid19 adalah penyakit yang berasal dari virus yang pada awalnya bertransmisi dari binatang liar ke manusia (wild to human) dan pada akhirnya bertransmisi dari manusia ke manusia (human to human). Awal penyebaran virus ini berasal dari kelelawar yang diperjualbelikan di pasar Wuhan, China, yang selanjutnya menjangkiti manusia setelah mengkonsumsinya.  Pasca hipotesis ini tersebar, muncul seruan dari sebagian masyarakat dunia untuk tidak mengkonsumsi hewan liar karena diduga beberapa hewan liar adalah inang yang baik bagi virus penyebab penyakit baru manusia.  

Teori ini secara tidak langsung mentrigger meningkatnya awareness masyarakat dunia akan  konservasi biodiversitas.  Hal tersebut terlihat dari meningkatnya jumlah tulisan, seminar online, penelitian dan publikasi yang temanya tentang biodiversitas dan penyakit baru yang mengancam manusia.

Salah satu penelitian terbaru yang cukup populer adalah penelitian Stanford University  yang menunjukkan bagaimana deforestrasi hutan tropis di Afrika meningkatkan resiko manusia tertular virus dari primata. Ketika hutan tropis menyempit karena dikonversi menjadi lahan pertanian, manusia dan primata terdesak menempati relung ekologi yang sama.  Relung ekologi yang sama menyebabkan potensi manusia tertular virus dari hewan meningkat karena semakin bertambahnya peluang interaksi antar keduanya.  

Petani bergerak  ke hutan habitat primata mencari kayu perumahan, sementara stok makanan yang menipis di hutan mendorong primata bergerak ke lahan pertanian untuk pesta panen. Hal ini tentu tidak akan terjadi jika hutan masih luas. Manusia dan primata pembawa virus akan menempati relung ekologi berbeda. Manusia mengambil kayu perumahan di hutan yang bukan habitat primata, sementara primata tidak akan ke lahan pertanian,  sebab stok makanan berlimpah di hutan yang luas. Dengan demikian peluang interaksi antara manusia dengan primata semakin kecil sehingga manusia terjaga dari penularan virus.

Maningkatnya awareness masyarakat dunia terhadap konservasi biodiversitas adalah momen yang sudah lama ditunggu penggiat lingkungan. Pandemik corona bak durian runtuh di tengah angin topan. Permasalahan klasik utama berupa dana terbatas sepertinya akan terselesaikan dengan sendirinya, karena akan banyak sumber-sumber pendanaan yang tersedia pasca perekonomian dunia terkonsolidasi. Pendanaan untuk konservasi biodiversitas akan meningkat karena masyarakat dunia semakin sadar akan bahaya penyakit baru yang disebabkan oleh interaksi manusia yang salah terhadap alam. Sembari menunggu badai corona berlalu, sekarang ini, adalah waktu berharga bagi penggiat lingkungan untuk menyiapkan konsep pengelolaan lingkungan untuk ditawarkan kepada donatur kedepannya.

Namun selain konsep yang baik, hal terpenting nantinya adalah integritas menunaikan kepercayaan donatur. Jangan sampai peluang yang baik ini justru menjadi awal ketidakpercayaan donatur. Jika ini terjadi artinya preseden buruk bagi usaha pelestarian lingkungan kedepannya. Penggiat lingkungan akan kembali ke permasalahan klasik yaitu "Pendanaan Terbatas". Sesuatu yang tidak diinginkan bersama.



EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search