9 Spesies Burung di Suaka Margasatwa Pulau Komolom, Papua

- Juni 23, 2020


Oleh : Tim Survey Balai Besar KSDA Papua Tahun 2019*

Tahun 2019 adalah tahun istimewa bagi Tim Survey Balai Besar KSDA Papua. Istimewa karena berkesempatan menapakkan kaki di Suaka Margasatwa Pulau Komolom, Merauke Papua. Sebuah kawasan suaka bagi satwa liar yang telah dimasukkan ke dalam daftar 111 pulau terluar Indonesia.  Berkunjung ke sana tidaklah mudah, butuh biaya tak sedikit dan nyali yang harus discale up hingga titik atas rata-rata. Sebab suaka margasatwa yang satu ini terletak di remote area yang aksesnya sulit.  Rintangan alam adalah kemestian yang harus dihadapi jika ingin ke sana.  Itulah mengapa hingga saat ini, surveyor Balai Besar KSDA Papua yang pernah ke sana masih bisa dihitung jari.        

Merasa beruntung, Tim Survey Balai Besar KSDA Papua tidak menyianyiakan kesempatan untuk mengumpulkan data dan informasi sebanyak-banyaknya.  Salah satu data dan informasi yang berhasil terdokumentasi adalah 9 jenis spesies burung di SM. Pulau Komolom. Survey dilakukan dengan memotret  spesies burung yang dijumpai kemudian diidentifikasi dan dideskripsikan menggunakan buku Burung-Burung di Kawasan Papua yang ditulis oleh Beehler bersama koleganya. Burung-burung yang berhasil diidentifikasi sebagai berikut :

1. Burung Umukia Raja (Tadorna radjah)

Foto Properti Milik Balai Besar KSDA Papua

Deskripsi : Panjang Keseluruhan 53 cm. Satu-satunya itik besar yang seluruh kepalan, leher dan bagian bawahnya putih. Perhatikan pita sempit kadru di dada, satu-satunya tanda di bagian bawah. Bagian atas coklat terang, dengan bahu putih mencolok yang terlihat jelas ketika terbang.

Jenis Serupa : Angsa Kerdil kapas yang jauh lebih kecil mahkotanya hitam dan bahu tidak putih. Dalam hal tertentu Belibis kembang mungkin kepalanya terlihat putih, tetapi tidak memiliki pita di dada dan tidak ada tanda putih di sayap.

Perilaku : Makan sendirian atau dalam kelompok kecil di laguna air tawar,rawa-rawa, kolam berlumpur, kurang umum di sungai-sungai kecil di mangrove dan muara. Juga menyenggut rumput. Mungkin beristirahat di pohon-pohon. Terbang lambat, kadang mengepakkan sayap.

Suara : Biasanya bersuara hanya ketika terbang nada rendah yang khas diselingi siulan nada tinggi yang pendek.

Persebaran : Agak terpencar di sekitar pesisir P. Papua, dengan catatan paling banyak dari aliran sungai bagian selatan, khususnya kawasan Trans-Fly dan Port Moresby, kadang umum, juga tercatat dari kelompok Pulau Papua Barat, P. Yapen, Kep. Aru, P. Goodenough, dan P. Fergusson. Berbiak di Maluku sampai Australia bagian utara.

2.  Burung Nuri Bayan (Eclectus rotatus)

Foto Properti Milik Balai Besar KSDA Papua

Deskripsi : Panjang Keseluruhan 38 cm. Satu-satunya nuri besar yang sebagian besar tubuhnya merah (betina) atau hijau (jantan). Betina merah, paruh hitam, dada dan bulu-bulu terbang biru. Jantan hijau, paruh jingga, dua sisi bagian perut dan sayap bawah merah, dan bulu-bulu terbang biru. Ketika terbang burung-burung yang diamati dari bawah sering tampak seluruhnya hitam. Suaranya merupakan petunjuk yang sangat membantu untuk identifikasi. Perhatikan sayap panjang, membundar, ekor menyegi, dan cara terbang seperti mengayuh dan kuat.

Jenis Serupa: Jauh lebih besar dari pada nuri Geoffroyus. Kasturi kepala hitam terbang dengan kepakan sayap dangkal dan lebih cepat ( perhatikan tudung hitam). Di kelompok Pulau Papua Barat, lihat betet kelapa paruh- besar. Nuri Raja lebih ramping dan ekornya panjang.

Perilaku : Tersebar luas di hutan dan tepi hutan, khususnya terbang tinggi di atas kawasan terbuka, sering berpasangan, jarang dalam kawanan; makan biji-bijian dan buah di kanopi pepohonan,jarang pada tanaman pangan.Nuri besar yang umum di dekat pemukiman. Kelompok yang beristirahat malam hari dapat terdiri dari lusinan burung. Burung-burung ini memperlihatkan terbang peragaan yang khas pada saat matahari terbenam.

Suara : Kuakan tunggal graAAH, yang keras, parau, agak meninggi. Juga suara kedek kedek kedek kedek yang berirama atau keleng seperti lonceng ( suara yang terakhir hanya pada betina).

Persebaran : Di seluruh kawasan Papua kecuali beberapa pulau-pulau kecil, dari ketinggian permukaan laut sampai 1000 m ( jarang samapai 1700 m). Juga Kep. Nusa Tenggara, Kep. Maluku, Kep. Bismarck, Kep. Solomon dan Queensland bagian utara.

3. Burung Perkici Pelangi (Trichoglossus haematodus)

Foto Properti Milik Balai Besar KSDA Papua

Deskripsi : Panjang keseluruhan 28 cm. Perkici di P.Papua yang hampir selalu ada dimana-mana. Perhatikan ekor yang runcing, suara panggilan yang rebut, dan kerah tengkuk kuning kontras dengan kepalanya hitam biru. Cara terbang melesat dan tidak dapat diramalkan, sambil mengepakkan sayap. Perhatikan kepalanya gelap, dada dan sayap bawahnya merah, dengan setrip kuning mencolok di pangkal bulu-bulu primer.

Jenis Serupa : Nuri kelam lebih besar, ekornya membundar, dan arah terbangnya lebih terarah dengan kibasan sayap teratur. Jenis dari marga Chalcopsitta lebih besar, ekornya panjang, membundar. Perkici Neopsittacus kepalanya tidak kehitaman, jauh lebih kecil. Di kelompok Pulau Papua Barat, lihat catatan untuk Nuri Maluku dan Nuri sayap hitam.

Perilaku : Burung yang hidup di kebun. Biasanya dalam kawanan terdiri dari lima sampai dua puluh ekor, kadang lebih. Umum di hutan hutan, dan seluruh habitat bukan hutan. Mencari makan di pucuk pohon, memakan bunga-bungaan, buah yang lunak, getah pohon, dan jarang memakan serangga atau biji-bijian.

Suara : Pekikan melengking mirip suara nuri kelam diselingi dengan nada berirama.

Persebaran : Di seluruh Kawasan Papua, termasuk sebagian besar pulau-pulau satelitnya ( walaupun tidak ada laporan dari Kep.D Enrecasteaux atau Kep. Trobriand). Juga di Australia, Vanuatu, New Caledonia, Indonesia bagian timur, Kep. Bismarck dan Kep. Solomon.

4. Burung Kirik-kirik Australia (Merops ornatus)

Foto Properti Milik Balai Besar KSDA Papua

Deskripsi : Panjang Keseluruhan 25 cm. Kirik-kirik kehijauan yang umum selama musim tertentu, ekor kehitaman kontras dengan tunggir biru, dan pada dewasa ada pita hitam di tenggorokan. Remaja lebih kusam, bulu ekor panjang tidak ada dan tidak ada warna hitam di tenggorokan.

Jenis Serupa : Lihat jenis sebelumnya.

Perilaku : Jenis  berbiak dari Australia yang menghabiskan musim dingin di P.Papua dari bulan Maret sampai Oktober, menghuni hampir semua habitat terbuka yang sesuai dan bermigrasi melalui pegunungan yang lebih tinggi. Selama migrasi burung-burung ini beristirahat dalam kawasan yang sangat besar.

Suara: Nada tunggal bk berirama sering diulang dengan rangkaian yang cepat. Banyak nada seperti ini membentuk suara unik kawanan yang sedang terbang. Bunyi churn yang mengalir sering dikeluarkan ketika terbang dan juga kadang pada saat beristirahat.

Persebaran : Di seluruh P.Papua dan pulau-pulau satelitnya, dari ketinggian permukaan laut sampai 1500 m (jarang sampai 3500 m). Melimpah sebagai migran, dengan populasi kecil berbiak di daerah Port Moresby. Juga menghabiskan musim dingin di Kep. Nusa Tenggara sampai Kep. Solomon dan Kep. Bismarck. 

5. Burung Jagal Hitam (Crocticus quoyi)

Foto Properti Milik Balai Besar KSDA Papua

Deskripsi : Panjang Keseluruhan 34 cm. Jagal besar, seluruhnya hitam, dengan paruh mencolok, hitam berujung abu-abu biru pucat. Jauh lebih sering terdengar dari pada terlihat.

Jenis Serupa : Gagak dan manukodia paruhnya hitam, terbang berbeda. Tuwur asia jantan memiliki ekor lebih panjang dan paruh pucat.

Perilaku : Mencari makan serangga, kadal dan buah-buahan di bagian dalam hutan dan hutan mangrove, dari lapisan kanopi bawah. Bersuara nyaring, tetapi sendirian, waspada dan sulit diamati.

Suara : Qua Wen Qua  keras, bordering, dikeluarkan cepat, nada di tengah paling tinggi. Atau qua qua caur, atau kokwoiee kai; atau tolk-kwing-wing! Suara bervariasi secara geografis, tetapi kualitas bordering dan suara kwa mudah di kenali. Burung di P. Daru bersuara sangat berbeda, “currawong” lagunya rangkaian kompleks dan mencolok dari lima belas nada.

Persebaran : Di seluruh P.Papua, Missol, Salawati,Waigeo, Yapen dan Kep. Aru, dari ketinggian permukaan laut sampai 750 m ( jarang sampai 1400 m). Juga di Australia. 


6. Burung Elang Bondol (Haliastur indus)